Kebosanan memerkosa harapanku yang
berjalan sendiri tanpa kawan. Di bawah naungan malam.
Dan berusaha berteriak untuk melepaskan
diri dari cekikannya.
Meronta-ronta sekuat tenaga untuk
melepaskan semua beban yang lelah menindih. Berteriak-teriak meminta tolong,
tapi terabaikan oleh sunyi membungkam
Kejenuhan pun menyusul menggerayangi harapanku. Di bawah bayangan malam. Menelanjangi mimpi yang berbalut rapi yang terselip diantara sederetan janji. Mengecup paksa mimpi terbuai. Meneriakkan nafas dalam jerit tangis yang terdesak oleh keinginan yang tak mewujudkan nyata.
Mimpi dan harapan tergolek lemas tanpa busana di atas hamparan angan-angan. Menggigil kedinginan di bawah tenda atap langit. Tanpa senyum kerlip hias sang bintang yang berwajah muram. Mengasihani mimpi dan harapan yang teraniaya oleh kebinalan rasa bosan, dan kebiadaban rasa jenuh yang terpendam. Mengoyak-ngoyak mulut rahim menembus jantung mimpi. Merenggut mahkota keperawanan harapan yang terendap.
Bulan yang terlambat menyaksikan semua
ini, mengutuk sembari berkomentar,” sumpahi saja mereka agar membusuk di
neraka, terbakar oleh api yang mereka nyalakan sendiri oleh bara hasrat yang
menggelora.”
Kebosanan dan kejenuhan memamerkan
kelaminnya tanpa malu dihadapan bentangan dzikir saat subuh menjelang. Lalu
melarikan diri tanpa sesal yang menghakimi.
Mimpi dan harapan menitikkan air mata di
sudut bibir jingga subuh. Membangunkan sebagian janji yang terlelap. Do’a yang
diantar oleh malaikat pagi,” akankah kau berdiam saja? Akankah kau menolong
harapan dan mimpi tanpa sebuah pengampunan dan pengabulan yang tertunda.
| foto by Google |
No comments:
Post a Comment