Hawa politik tahun ini benar-benar terasa. Begitu banyak perbedaan
pendapat tentang capres sedikit banyak yang berakhir pada permusuhan,
renggangnya hubungan pertemanan. Pada Pilpres periode yang lalu tidak sebegini
panas rasanya.
Periode tahun ini pun saya tidak terlalu banyak bersuara seperti
teman-teman yang lain. Bahkan periode yang lalu pun saya sama diammnya seperti
ini. Saya berpikir untuk tidak terlalu mencampuri politik karena saya tidak diuntungkan
secara langsung pun tidak dirugikan. Nothing to loose.
Cuman iya sih kalau ada teman-teman dilingkaran pertemanan saya yang begitu menampakkan ketidak-sukaannya pada salah satu paslon, maka saya biasanya akan angkat bicara untuk menengahi. Pemilu yang damai. Karena saya tidak suka keributan apalagi kalau sampai mengarah pada kerusuhan. Ngeri saya membayangkan kalau harus melihat perang antar saudara pecah.
Tapi sedikit berbeda dengan Pilkada Makassar 2018 lalu saat pemilihan walikota. Saya merasa
harus angkat bicara, karena saya memang benar-benar merasakan manfaat yang telah di berikan oleh paslon
petahana yaitu pak Dani Pomanto.
Beliau benar-benar berdedikasi pada kelompok tani di wilayah perkotaan
sehingga beliau membuat Program ‘Poktanrong’ alias Kelompok Tani Lorong. Mengingat kala
itu harga cabai yang meroket. Dan saya kebetulan adalah salah satu anggota dari
kelompok tersebut.
Dari “Poktanrong” lalu kelompok
tani yang di wilayah Tello baru itu diperluas lagi menjadi KWT “Kelompok Wanita
Tani”. Karena konteksnya Kelompok Wanita Tani artinya wanita yang bertani
secara berkelompok. Jadi terbentuklah kelompok tani wainta di kompleks kami
mengingat di wilayah kami ada fasum yang menganggur. Dan berkat perhatian
beliau kelompok tani kami aktif dan mendapatkan banyak bantuan. Kelompok tani di
wilayah kami itu terbentuk akhir tahun 2016.
![]() |
| Lokasi Fasum yang kemudian dikelola oleh kelompok tani |
![]() |
| Saya dan anggota kelompok tani di wilayah kami |
Hanya saja karena beliau dan
pasangannya, Indira Mulyasari didiskualifikasi padahal sudah ada penetapan
paslon walikota sudah disahkan. Akhirnya ditetapkan paslon tunggal melawan
kotak kosong.
![]() |
| Saya beserta anggota lainnya dengan latar belakang foto bunga maatahari yang saya tanam |
Bukan karena loyalitas pada beliau tapi ada hal pribadi yang menjadi
alasan saya bertahan. Meski teman-teman yang lain berpindah kelain hati. Dan karena
saya tetap berpegang teguh meski beliau didiskualifikasi saya bakal memilih
kotak kosong. Akhirnya saya menyebut diri saya sendiri sebagai pejuang kotak
kosong.
![]() |
| foto saat kunjungan gabungan kepala dinas meninjau lokasi kebun kelompok kami |
Dan karena perbedaan pilihan dengan teman-teman kelompok tani lainnya akhirnya
memicu konflik internal lainnya antara saya
dengan ketua kelompok. Dan saya memilih keluar dari kelompok karena ‘diminta’
untuk keluar.
Seandainya saja waktu itu saya dalam keadaan berpikiran jernih, saya
harusnya bertahan mengingat hak-hak saya
dalam kelompok. Mengingat kelompok yang dibuat itu adalah inisiatif
warga bukan perorangan, dan kebetulan difasilitasi oleh penyuluh yang bertugas.
Ketua kelompok kami pun bukan dipilih oleh penyuluh tapi oleh anggota lainnya. Seperti
halnya saya yang kebetulan saat itu
dipilih sebagai sekertaris kelompok.
Tapi apalah daya keadaannya sudah terlanjur terjadi. Dari pengalaman pahit itulah saya mengambil banyak perlajaran, pilihan kita
biarlah hati yang tau, bahkan suami pun tidak boleh tahu, heehee…semakin kesini saya pun semakin memahami benar kata orang bijak bahwa di dunia perpolitikan tidak ada kawan atau musuh sejati yang ada hanyalah kepentingan sejati. karena emak-emak kebanyakan berpolitiknya suka bawa-bawa perasaan, yaa jadinya suka gak objektif menilainya. jadi mendingan emak-emak cukup jadi tim sorak saja deh...




No comments:
Post a Comment